Penulis:Marhaen Wijayanto
Hujan tahun kemarin membawa angin kenangan yang masih tersimpan. Foto di beranda mengingatkan pada akhir tahun lalu, ketika pinggiran kampung kakek menyuguhkan pelukan damai. Sepasang pena yang pernah diberikan kakek masih terpakai—sebagai lambaran rindu pada tempat yang selalu ayah ceritakan.
Tidak ada bunga yang mampu mengalahkan mawar di taman kampung kakek, tempat setiap tanda suka di beranda mengingatkan kebersamaan. Kini, hanya berkardus-kardus bantuan yang bisa sampai ke sana, sambil mengharap hari untuk kembali dan merasakan pelukan sanak saudara.
Laras, anak bungsu keluarga, berharap memberikan hadiah peringkat kelas pada kakek dan nenek. Ia memegang piagam setelah menjadi juara kelas, mengalahkan anak kepala sekolah—berbeda dengan tahun kemarin yang hanya mendapatkan juara dua dan menangis. Namun, harapannya terhenti oleh kabar duka: kampung kakek larut terbawa banjir dari Gunung. Laras menatap layar gawai, meluluhkan harapan untuk liburan di kampung halaman.
Media sosial membisikkan kenangan kampung kakek. Hujan rintik tahun kemarin tak menghilangkan harapan liburan, tapi tahun ini berbeda. Tangan-tangan rakus menebang pohon membuat negeri kakek yang hijau berubah jadi lahan lumpur; jembatan menuju kampung hanyut. Laras masih memakai seragam rapi, tapi jilbabnya basah air mata—meski juara kelas, kabar kakek tak kunjung terdengar.
“Banjir terjadi karena kita tidak menyayangi pohon,” ujar Ustadz Suci. “Orang-orang hanya berpikir keuntungan, membuka lahan untuk sawit dan kentang, tanpa melihat guyuran hujan yang menghanyutkan kampung kakek. Di sana surganya kerusakan alam—pepohonan larut, binatang kehilangan suaka, ribuan spesies hilang tempat berteduh.”
Lewat saluran sekolah, Ustadzah Suci memberi pesan agar siswa berperilaku ramah lingkungan. Laras menyimak dengan semangat, meskipun tahu perjuangannya untuk liburan gagal karena banjir. Di ruang tamu, ayah—biasa sibuk bengkel mobil—bertengkar lewat telepon klasiknya tentang kerusakan hutan. “Lawan terberat setelah merdeka adalah kita sendiri,” ucap ayah. “Zaman dahulu ada ‘boschwezer’ (dinas kehutanan kolonial) untuk menjamin ketersediaan kayu dan sumber air, tapi kini manusia hanya mengerti setelah bencana.”
Ayah menjelaskan bahwa pemerintah kolonial pernah menetapkan batas “hutan tutupan” melalui negosiasi dengan sultan, namun masyarakat adat kehilangan akses dan sistem perladangan berpindah dilarang. Perlindungan hutan berganti dengan perkebunan yang tak mampu menahan tanah, mengubah kebijakan kolonial dari pencegahan menjadi konservasi keanekaragaman hayati.
Suara azan dzuhur bergema; Laras sujud lama berdoa agar liburan ke kampung kakek terwujud. Usai shalat, ia mendengar ayah menelpon seseorang. Tak lama, kendaraan online berhenti—seorang lelaki tua berpakai Melayu turun dari koper. Laras menangis: itu adalah kakek, yang selamat dan datang dari Sumatra sebagai kejutan. Dengan bangga, Laras menunjukkan piagam peringkat satunya pada kakek. Doanya pun nyata.
Tentang Penulis
Marhaen Wijayanto lahir di Boyolali, Jawa Tengah, menyelesaikan pendidikan di Universitas PGRI Semarang. Saat ini menjabat sebagai Kepala SD Negeri 7 Simpang Teritip, Bangka Barat. Karyanya terbit di media lokal dan nasional, termasuk novel Mencari Jejak sang Depati, kumpulan puisi Hujan di Awal Desember (2021), dan kumpulan cerpen Buku Tanpa Aksara (2025). Ia pernah mengikuti Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia XII 2020 dan Kongres Bahasa Indonesia XII 2023. Hubungi via email wijayantomarhaen9@gmail.com atau WA 0821-6436-1321.
Tags
Berita





